Hai! Jumpa lagi dengan Apriani Wulandari. Dan ini dia jurnal saya.

Day 12: A letter to Someone

Surat ini saya tujukan untuk kamu. Orang yang saya panggil akang. Orang yang pernah mengecap diri sebagai mahasiswa kadaluarsa. Orang yang selalu memberi saran untuk begadang. Dan orang yang kurang lebih setahun ini saya kenal.

Surat ini isinya hanya sekadar ungkapan saya yang belum pernah diungkapkan secara langsung. Mungkin suatu saat saya akan kasih lihat postingan ini kepada akang, wkwkwk.

Fitur yang ada di sosial media yang membawa saya mengenal akang. Walaupun terdengar cringe, namun itulah faktanya. Berawal dari fitur people nearby yang berakhir di kolom chat whatsapp.

Banyak obrolan yang telah dilalui. Perbedaan latar belakang menjadi bumbu seru yang mematik dalam obrolan. Semakin ditelisik saya mulai mengagumi sosok akang. Akang orang yang seru, kocak, nyaman diajak ngobrol dan sering mengusili saya. Maaf sebelumnya ya kang, saya pernah menjadi stalkernya akang, hihihi. Saya amati kegiatan akang yang diunggah di sana. Dan barulah saya tahu kalau akang itu anggota PSM, salah satu ketua komisi di DPM, akang jadi asdos yang sering bantu dosen di lapangan, dan berbagai kegiatan lain yang saya anggap kalau akang itu organisator dan aktif tentunya.

Wah luar biasa banget pencapaian akang! Hal itu yang membuat saya sering kali merasa underestimate. Saya merupakan sisi yang bersebrangan dengan akang. Merasa bukan apa-apa dibanding dengan apa yang udah akang capai. Makanya hal itu juga jadi titik balik kekaguman saya pada akang. Saya sering memotivasi supaya bisa upgrade diri dan menjadikan akang sebagai suntikan semangat.

Mungkin bila dikatakan, akang itu satu-satu orang dari people nearby yang masih berhubungan dengan saya. Ya, walaupun komunikasi terkadang putus-nyambung, namun syukurnya masih bertahan hingga sekarang. Karena saya sudah terbiasa dengan sosok akang, terlebih saya pun mengagumi sosok akang, tak terasa saya sering sekali melihat orang lain dengan cara pandang saya terhadap akang. Sering sekali saya membandingkan orang yang mendekati saya dengan akang. Karena itulah terkadang saya ingin coba menghilangkan sosok biasa akang dengan cara tidak memperpanjang obrolan di whatsapp. Namun setelah dicoba... saya ternyata tidak bisa. Sosok biasa akang masih terus saja membayang. Dan akhirnya saya menyerah untuk membiarkan hal itu berkeliaran saja.

Saya sadar kalau akang tidak pernah menjanjikan apapun kepada saya. Hubungan kita selama ini pun saya gak ngerti harus memberi nama apa. Saya menikmatinya, saya senang menjalaninya, mengalir apa adanya. Namun terkadang pula sisi wanita saya merasa lelah. Ingin rasanya menuntut suatu kejelasan. Kejelasan di sini bukan hanya sebagai 'seorang yang berarti', bisa saja sebagai teman atau sahabat. Setidaknya bila begitu saya tidak akan canggung dalam bersikap dan memilih obrolan dengan akang. Tapi mungkin bagian ini skip saja. Saya senang dengan keadaan yang sekarang dijalani. Tak perlu akang merasa terbebani.

Aduh tak terasa udah banyak banget hal yang saya utarakan seputar akang. Untuk semua itu, saya ucapkan terima kasih. Terima kasih akang udah berkenan jadi pemacu semangat saya. Terima kasih udah mau menerima dan berbagi berbagai obrolan. Terima kasih telah hadir mengisi sepi yang teramat lama. Terima kasih untuk file template ppt, foto pemandangan dan cover lagu nya. Selama ini cerita kita masih terbatas lewat dua layar. Semoga suatu saat bisa terbayar lunas lewat sebuah jumpa.

Sehat-sehat terus ya kang. Alhamdulillah sekarang menyandang kembali status mahasiswa baru, bukan lagi mahasiswa kadaluarsa, wkwkwk. Semangat menempuh studi pasca sarjananya!