Hai! Jumpa kembali dengan Apri. Mohon maaf jurnal #30DAYSJOURNALLINGCHALLENGE untuk hari ke-6 belum diunggah karena jurnal tersebut belum selesai, hiks. Maka dari itu, hari ini saya sekalian mengunggah jurnal hari ke-6 bersamaan dengan jurnal hari ke-7. So, here we go!

Day 6: Your best friend

Sebenarnya saya masih gamang mengenai definisi sahabat yang sebenarnya. Bila sahabat merupakan orang yang bersedia mengulurkan tangannya saat jatuh, orang yang bersedia menemani saat suka maupun duka, atau orang yang ada di garis terdepan saat tengah terpuruk, hm mungkin saya punya satu nama yang memenuhi kriteria.
Dia itu teman dari semasa SMA. Dia orang yang luwes, mampu menopang saya yang kaku. Orang yang mudah bergaul, seru, kocak, humoris dan peka terhadap keadaan sekitar. Karena sifatnya yang condong seperti ekstrover, akhirnya saya berhasil dirangkulnya. Saya yang introver ini berhasil menjalin pertemanan dengannya. Dia orang yang diajak apapun atau kemanapun akan berusaha meng’iya’kan bila memang bersedia. Saya senang dengan kepeduliannya kepada teman, apalagi saat dia menyuarakan untuk membuat agenda merayakan hari ulang tahun setiap teman kelas. Pasti bila momen itu terjadi rumahku akan jadi tempat eksperimen, di mana keterampilan kami membuat kue ulang tahun diuji. Walaupun hasil akhirnya selalu kurang memuaskan tetapi saat momen itu berlangsung kami senang melakukannya.

Selain dia, masih ada teman dekat saya yang lain semasa SMA. Namun dari sekian banyak teman saya itu, Semesta terus mendekatkan dia kepada saya. Semenjak lulus SMA hingga 3 tahun ini, dia lah yang selalu ada untuk saya. Berkenan mendengarkan curahan saya, berkenan jajan bersama atau berkenan mampir main ke rumah saya. Memang benar ya, setelah dewasa circle pertemanan rasanya semakin menyempit. Atau memang benar kata Bang Ge, bukan karena dewasa yang mempersempit lingkar pertemanan, namun karena teman-teman yang lain sudah menemui takdirnya yang lain. Seperti bertemu teman baru atau bertemu suasana baru yang membuat mereka melangkah menjauh dari saya. Semoga Semesta sengaja memilihkan dia sebagai teman yang berarti untuk saya.

Hal yang saya senang dari dia yaitu dia pendengar yang baik. Yang mampu menyimak tanpa perlu menghakimi. Yang berkenan direcoki oleh hal remeh hingga serius sekalipun. Sesibuk apapun dia, setidaknya dia berusaha untuk meluangkan waktunya untuk saya. Kadang juga saya melakukan sebaliknya. Saya merasa bebas untuk berbicara mengenai apapun kepadanya. Tidak merasa terbebani dan terintimidasi. Tidak takut bila dia akan membocorkan apa yang pernah saya curahkan. Rasanya hal itu tidak mungkin terjadi karena kami berdua sudah paham mengenai ‘privasi’, wkwkwk.

Teruntuk kamu, Fitriyani Siti Nursya’adah. Terima kasih untuk uluran tangan yang tak pernah putus. Untuk telinga yang tak bosan mendengar ocehan. Untuk tenaga yang rela terbuang. Terima kasih telah membersamai. Dalam setiap senang dan sedih. Suka dan duka sekalipun. Semoga Tuhan memberkahimu selalu, aamiin.

Itu dia jurnal hari keenam saya. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya!