Kepada: Pemuja Sunyi

Pesan: Ihwal ini pun terbit. Lebih kurang, dirinya, engkau, dan saya. Benar lakonnya berparak, akan tetapi pada akarnya selaras. Saya sempat terpikat, dirinya mengesirmu, engkau mengagumiku.

Tahun pertama. Saya mempertanyakan. Siapakah engkau? Darimana asalmu? Saya paham dari kawan-kawanku akan engkau, sekelumit sahaja. Lebih matang dariku, lebih mafhum, ideal. Ah, tempo hari, ku semata-mata mengerti. Tak akrab, engkau nampak ekslusif. Kendati menaksir figurmu yang mendalu, tak apa, meniliknya jua ku puas.

Tahun kedua. Dirinya berceritera padaku, macam mana dirinya menggandrungimu. Konon, engkaulah visualisasinya. Sebilang detik, dirinya merawi, menyunting siasat mesra bersamamu. Termenung, namun mengangguk. Patah arang, tapi, ya, bagaimana? Saya pun membelanya, kawanku. Kesilapanku memang tak berbagi prosa. Justru ku sokong, petuahkan kawanmu perankan pialang. Bertandang pada bilikku demi mengintaimu. Namun apalah? Engkau sungguh sukar.

Tahun ketiga. Engkau tak lekang dari benaknya, terkungkung. Hingga satu kala, kawanku mendedahkan ruh Eros. Satu problema, apakah nyata? Apakah semasa ini saya tak terjaga? Bagaimana mampu? Lantas mengapa engkau menafikkan gairahmu? Sampai-sampai tertentang keacuhanmu belaka. Seakan segalanya adalah angin yang menitimu.

Apakah saya terlampau awam? Apakah kelewat mengasihi persona? Apakah selama ini, terang menangguhkan dominansinya?

Luputkah mendakwa merana? Apa pasal menolaknya? Apa sebab baru kemarin terkuak? Apakah tak ada hasrat yang dapat kau curi?

Alhasil, rujuk pada; Termenung, namun menangguk. Tak sangka mesti apa.

Lantas, betapa dengan cara apa bagimu saya harus berprinsip?

Tertanda,

Saya, yang tersuntuk kacau.

- Mantik Segara, 19 September 2017