Kawan: "Percaya suratan kah?"
Lawan: "Percaya saja."
Kawan: "Menurut kau seperti apa?"
Lawan: "Ini pun sedang."
Kawan: "Itu pikir kau?"
Lawan: "Apa yang kau maksud?"
Kawan: "Ada, Berlalu, Sandingan, serta Godaan."
Lawan: "Ah, apapun yang di rangkakan pun terbentuk. Mau kau alihkan demi nama pun sebenarnya sudah termaktub."

Terserah. Kau mau setuju denganku atau tidak. Tapi adanya hal ini membuat saya berpikir. Akhirnya pun kembali pada apakah hal tersebut memang seperti halnya, ataukah sebatas bertepatan.

Dua mata pedang. Di ibaratkan pula arah mata angin, berlawanan satu sama lain. Namun bersinggungan dengan tumpuan. Apakah kau bersikukuh atau tak acuh.

Bersemuka dirinya adalah suatu perkara. Alit. Entah apa, namun memblundar. Memutar seperti karakternya. Hingga akhirnya berujung pada sebuah ruang hampa yang bersebrangan dengan pionnya. Mengendus kata hati. Bagaimana jika mengarungi namun geruh? Apakah kuasakan lega?

Ah, terkenang prolognya. 3 musim kala itu, tak hiraukan saja.
Ampun… tapi kau sepadan seperti bunga yang lain. Menarik, namun lain halnya dengan yang lain pun menarik.
Ku tarik kau biasa saja, karna lainnya pun biasa saja. Namun ketika kau di serukan, tumbuhlah dalilmu. Kau di elukan. Saya paham, kaulah keabsahan dalam kata “absurd”.

Oh, maaf, ada yang porak-parik.
Padang rumput di jejak banyolmu. Pakaian dominansi hijaumu, sibakkan jepitnya, dengan sepak kaki.
Absurd. Maaf. Tapi saya pandang.
Hingga saya tak sadar, ada simpul yang tertarik.
Ada nafas yang terhembus. Ada helak yang tertahan.

Beda hal dengan Savana.
Kau ingat? Kita satu teritori.
Savana…
Seperti saat kau memekik, kau disambut pengikutmu. Taat, tunduk, dan patuh padamu. Saya pun terbuai, padahal saya pionir pula.
Payah. Ah, sampai kapanpun si Serigala akan selalu dihatam piramida Sang Raja Hutan. Sampai Serigala pun tak sadar bahwa si Harimau pun akrab dengannya.
Ah Baginda… jiwa dan ragaku untukmu. Saya takhluk.

Hingga kau berada tepat di samping saya. Saya jelaskan saja. Bagian timur terasa panas. Seperti waktu itu. Antara hawa dan sukma, sama-sama meresahkan. Tapi untung saja dapat di hapus lenggang. Entah apa yang mengangkatnya, tapi terasa.
Namun mengapa bungkam? Ada apa dengan semestamu? Mahfumku, tak semacam itu. Apakah kau seiring pula denganku?
Namun ketika si Kera memoncong, kau mulai berkelakar. Kau bidas. Ada apa denganmu Baginda?
Biarlah, perhelatan ini juga sudah selesai. Baginda akan terlupa. Saya pun akan kembali.

Euforia masih mengamuk. Saya masih memburumu.
Saya percaya pesta sudah usai. Namun mengapa masih bersua? Kala itu. Sekilat. Di balut malam. Instingku menampar keras. Kau yang bersungga dengan arus. Romanmu yang kaku, namun saya akui memabukkan.

Itukah dikatakan suratan? Atau ketepatan belaka? Jika salah satunya, bagaimana dengan temponya?
Mengapa pula tak menjaring keras? Taring kokoh tak mencabik? Kehilangan naluri atau di cabut nafsu?
Dimana aumanmu? Harkatmu?
Apakah semata-mata sebab kedudukan?

Dengan ini, saya menafikan ketepatan. Sandingan dan godaan ini ada halnya. Tak hanya buang-buang suasana saja. Tetap hati ada pasalnya. Semoga saja benar.

Suatu musim nanti, kita semua akan berpesta. Merangkai kembali.
Akan ku tantang kau Baginda Raja… Ku tantang kau melawanku. Atau menyertaiku.