“Aku berangkat”, katanya.

Aku cuma diam dipelataran. Perlengkapannya sudah dikemas. Nyaris terlalu rapih untuk seorang laki-laki. Sepatunya sudah dipijak, kuncinya sudah ditangan. Dia menatapku sekilas, lalu dengan cepat ia membuangnya.

Dia tak tahu betapa berbahayanya kata-kata itu. Akan ada berapa banyak buih lagi yang terdampar? Apakah langit juga akan bersuara?

“Kamu juga harus berlari”, setelah keheningan itu.

“Kapan aku harus berlari?”, sambarku cepat.

Dia diam.

“Harus kemana?”, cercaku.

“Pergi. Kemanapun. Asal kakimu membawa jauh. Atau pikiranmu menuntun. Pergi. Nanti ragamu akan menunjukannya. Jiwamu akan mengatakannya”.

“Tapi aku suka disini. Kamu juga. Buat apa kamu pergi? Apa yang kamu cari? Kamu punya segalanya disini”.

“Aku mau cari keheningan. Aku mau rambat ilalang. Aku mau berkawan dengan dingin. Biar aku juga tau artinya malam”.

“Apa maksud kamu? Bohong kamu! Kamu hanya ingin kebebasan kan? Makanya kamu pergi”.

“Tidak. Aku mau berkawan dengan langit. Aku mau menemui pasti. Kamu saja yang disini terus”.

“Apa salahnya berkawan dengan ombak? Bercengkrama dengan camar?”.

“Aku mau mencari aku”.

“Kamu punya aku disini”.

“Nanti kan ada bayangmu?”.

“Kamu tak akan menemukanku disana. Aku akan disini, berlari dengan alang. Aku akan menunggu senja”.

Matanya menerawang. Sesekali ia melihatku. Aku yakin ia tak akan lama pergi. Ia hanya akan mampir. Mau aku habiskan ikan sendiri, aku tak peduli. Asal dia kembali. Mau asam yang ku ingat pun tak apa, aku nanti.

“Kalau kamu mantap pergi, pulanglah. Jangan lupa dengan sejatimu”.

Tapi ia tetap pergi, tanpa bahasa. Seperti yang biasa dia lakukan jika ingin pergi.

Aku suka mengukir di bebatuan. Hanya sebagai pengingat. Itu pun kadang hilang dibawa laut. Aku juga suka melukisnya di pantai. Tapi tak bertahan lama. Aku menghendaki agar cepat terhapus dan ombak pun melakukan tugasnya dengan baik. Terkadang aku mengunjungi karang di ujung sana. Ya, hanya sebagai pengingat saja. Mungkin aku bisa melongok birunya.

Sudah berapa lama kamu pergi? Ah aku tak mengingatnya, tapi aku rindu. Ya, gamblang sekali. Kamu pasti asyik bicara dengan Sang Penguasa. Mungkin kamu tau betapa rendahnya aku. Sekarang kamu tau bukan bedanya kelam dan malam. Selamat! Kamu sudah menjadi malam! Aku belum bisa menjadi seperti kamu. Aku masih menjadi kelam.

Apa kamu mau mengajari aku? Aku yang rendahan ini. Apakah kamu sabar menuntun? Apa kamu bisa percaya aku?

Aku mau menjadi malam. Tapi bukan berati aku tak suka kelam. Aku pernah jadi dini, bahkan lebih jauh dari itu. Kamu bahkan tak tau. Kamu harus tau kelam, kelam itu menyenangkan. Tapi yang lebih penting dari menjadi malam, maukah kamu kembali? Kamu hanya perlu beri setitik putih. Biar aku terang. Biar aku tegap.

Sini, kamu hanya perlu melebarkan mata. Membiarkan rambutmu terhembus angin. Nanti dia juga akan melapangkan dadamu. Aku akan menjabarkannya. Buka telingamu, dengarkan gemuruh semesta. Nanti akan ada bunyi-bunyian teman pagi. Biar langkahmu dikejar setia. Biar dia membasuh gundahmu. Kamu bisa duduk-duduk di tikar terempuk di dunia, denganku. Nanti kita bicara biru, entah dia yang sokong tangga antah berantah atau dia yang kuat merampas milikmu.

Kamu hanya perlu menghirupnya. Rasakannya menuangkan hidupmu. Nanti kita sama-sama patahkan tinggi, biar kita hidup. Cobalah untuk mengakuinya bahwa kamu senang disini. Tidak hanya dengan dinginnya langit.

Tapi kamu akan kembali.

Kalau tidak, aku yang akan kembali.

Atau aku akan membersamaimu.

Suka atau tidak.

Sini, bersamaku. Merenung. Berputar khas segara. Bersamaku. Dunia tanpa batas.

- Mantik Segara, 12 Januari 2017