Dari judulnya saja kita tahu bahwa cerita novel ini berpusat pada aroma. Kisah dimulai dari obsesi Keluarga Prayagung terhadap Puspa Karsa, bunga yang dialkisahkan memiliki kekuatan yang dasyat. Uniknya, bunga ini begitu misterius dan hanya dengan aromanya bisa dikenali dan hanya orang-orang pilihan pula yang dapat membauinya. Dimulai dari Janirah Prayagung yang mencuri lontar sejarah dan ekstrak Puspa Karsa dari Keraton yang kemudian mengantarkannya pada Kemara, perusahaan kosmetik tertua dan terbesar di Indonesia. Janirah kemudian mengiktiarkan Raras, cucunya, untuk mencari bunga Puspa Karsa. Inilah awal mulanya obsesi Raras untuk menemukan bunga itu. Ia memprakarsai ekspedisi ke Gunung Lewu yang dipercaya merupakan lokasi bunga itu berada. Namun ekspedisi itu mengalami kegagalan bahkan memakan korban.
Kegagalan ini tidak mematahkan sedikitpun obsesi Raras, justru ia semakin mapan dalam menyusun strategi baru. Di sinilah plot diputar dan mempertemukan pembaca dengan benang merah terhadap tokoh Tanaya Suma dan Jati Wesi yang memang sejak awal sudah disebutkan latarbelakangnya dalam buku. Jati, pemuda yang besar di lingkungan TPA Bantar Gebang, memiliki kemampuan penciuman yang luar bisa tajam, di sana ia dikenal dengan sebutan si Hidung Tikus. Keunikan yang sama juga dimiliki oleh Tanaya Suma, putri semata wayang Raras Prayagung. Suma dengan bakatnya membantu ibunya di Kemara dan menciptakan produk parfum Puspa Ananta yang diplagiat oleh Jati.

Pertemuan keduanya dimulai ketika Raras merekrut Jati sebagai karyawan Kemara dengan kontrak seumur hidup sebagai sanksi bagi Jati yang meniru Puspa Ananta. Kemunculan Jati tidak disukai oleh Suma. Namun pada akhirnya, Suma menerima kehadiran Jati dengan damai. Cerita Jati yang meracik parfum tiruan, kemudian sempat masuk penjara dan dibebaskan dengan syarat agar berkerja dengan Raras memang seperti proses kebetulan biasa, namun sebenarnya inilah rencana besar Raras untuk memanfaatkan Jati.
Ekspedisi Puspa Karsa pun kembali dilakukan yang merupakan puncak dari cerita Aroma Karsa. Pembaca disugihi berbagai informasi penting terkait latarbelakang Jati dan Suma, dan membongkar siapa sebenarnya Raras itu.
Banyak tokoh lain yang sebenarnya ada di novel besutan Dee ini, namun saya sengaja hanya menyajikan Raras, Jati, dan Suma saja dalam review karena merupakan tokoh kunci cerita. Penyampaian cerita Dee, seperti biasa, dibentuk oleh alur yang membuat pembaca nyaman di awal namun mengejutkan di akhir cerita. Pembaca akan disuguhkan kejutan-kejutan kecil di pertengahan cerita yang justru menambah greget dan rasa penasaran.
Aroma Karsa juga memberi ruang bagi pembaca untuk tidak sekedar memaknai cerita saja, tapi juga memaksa pembaca untuk mempelajari ilmu baru, mau tidak mau. Aroma Karsa dibungkus dengan informsi tentang aroma. Rangkaian kata Dee dalam mendeskripsikan aroma patut diacungi jempol. Mulai dari aroma yang manis untuk diimajinasikan hingga aroma yang mampu mengundang rasa jijik atau ngeri.
Selain aroma, Dee juga mengundang kita untuk “belajar” tentang tanaman Anggrek dan berbagai variasinya. Penuturan Dee akan keindahan anggrek begitu menarik kait penasaran saya hingga terkadang saya harus berhenti membaca untuk mencari bunga-bunga yang dimaksud di internet. Dee juga sangat pandai mengaburkan jarak antara mitos dengan sejarah. Seandainya penuturan Pelajaran Sejarah semenarik ini ketika di sekolah dulu, mungkin dulu saya lebih giat belajarnya.
Namun dari semua karya Dee, baru di Aroma Karsa ini saya merasa tidak terarik dengan penokohannya, terutama tokoh Jati Wesi. Hampir semua review Aroma Karsa yang saya baca memuat kesukaannya terhadap Jati. Ntah karena saya beda selera atau bagaimana, tetapi saya tidak suka dengan Jati. Jati memang merupakan karakter yang cerdas, menarik dan tegas, namun menurut saya sedikit kurang ajar. Pertama, Jati meniru Puspa Ananta, karya terbaik Suma. Setelah itu, masih dalam pertemuan pertama, Jati mengkritik habis kekurangan parfum itu dan menudingnya sebagai produk yang meniru parfum lain.
“Seperti berusaha meniru La Petite Robe Noir, tapi gagal.” Jati (141)
“Puspa Ananta bagus, tapi belum punya kepribadian kuat. Tidak seperti….” Jati (142)
Tidak apa-apa mengkritik karya orang, namun cara penyampaian Jati seolah menjatuhkan kredibilitas Suma sebagai empunya karya. Jati dengan santainya merombak formula Pupa Ananta. Wajar saja kalau Suma tidak suka dengan Jati. Obsesi Jati untuk merombak dan mengubah Puspa Ananta menjadi sangat konyol. Jati mulai menyatakan niatnya unjtuk mengevaluasi Puspa Ananta dan menyarankan perbaikan yang jelas-jelas tidak diseutujui oleh Suma.
“Saya bisa perbaiki.” Jati (216). Apa tidak ada yang merasa bahwa ego Jati sangat tinggi bahkan cenderung misogini? Saya tidak tahan dengan karakter Jati yang mengacak-acak karya besar orang lain dan menyatakan ingin memperbaikinya seolah-olah ia memiliki hak. Sejak say abaca komentar-komentar Jati terhadap Puspa Ananta, dalam hati saya teriak, ya kamu bikin karya sendirilah jangan urusin punya orang.
Puncaknya saat Jati menyatakan niat agungnya untuk memperbaiki Puspa Ananta sebagai tujuan utamanya di Kemara. “…Akhirnya Jati memiliki tujuan yang bisa digenggam kuat-kuat. Merombak Puspa Ananta. Membuktikan kemampuanhnya kepada Tanaya Suma.” (225)
Ok, ini benar-benar memakanhati saya. Apalagi mengingat bahwa Suma tidak mau karyanya dirombak.
Ketidaksukaan saya diperkuat dengan kelakuan Jati yang senang menginterupsi Bunda Ratih pada saat orientasi di Kemara. Istilah mansplaining pantas disematkan pada kelakuan Jati pada saat itu. Memang Jati cerdas dalam dunia parfum dan didukung dengan kemampuan hidungnya yang hebat itu, tapi tidak juga dia memperlakukan Bunda Ratih seperti itu dengan notabene memiliki pengalaman yang lebih tinggi dari Jati. Jati juga mengulang tindakan yang sama pada Bu Utari dan Suma. (Maafkan rentetan ketidaksukaan saya ini, saya sedikit marah terhadap Jati).
Oh iya, terkait dengan Raras. Pembaca digiring untuk menandai Raras sebagai tokoh utama protagonist. Dimulai dari dirinya yang diamanahkan untuk menemukan Puspa Karsa oleh eyangnya hingga menjadi ibu peri bagi Jati. Namun sedari awal saya sudah berani menebak bahwa sebenarnya Raras adalah tokoh antagonis yang dijadikan bumbu plot twist dalam cerita. Bila pembaca mengikuti Petir dan IEP, tentu familiar dengan konsep Ibu peri yang ternyata adalah penjahat. Ingat Bu Sati?